Senin, 21 Mei 2012 | 2:47

Archive: Cerpen Subscribe to Cerpen

kopi

Sepahit Kopi Aceh

Oleh Maulidar Wati Aku berjalan setapak demi setapak mengelilingi kampungku yang sudah lama kutinggali demi meraih cita-citaku menjadi orang sukses di kampungku—oleh karena itu aku sekolah di Banda Aceh. Awalnya sangat berat kutinggali tempat...

Perempuan Bermata Pedang

Oleh Bustami bin Arbi Sorot matanya tajam menghujam ke relung sanubari. Sebilah pedang yang tergambar di semburat wajahnya seakan siap menerkam kuat ke leher lelaki kekar di depannya. Lembut suara saat bermanja ria dengan janin  yang di rahimnya,...
ba

Sa Ikaroi?[1]

Aku perhatikan Ama mempersiapkan peralatan berburu itu. Tiga buah kunyur[2] tajam, parang panjang, beberapa utas tali, pisau dan tentu saja Tongpi: anjing peliharaan yang setia. “Ama, Aku boleh ikut untuk berburu?” tanyaku hati-hati. Ama...
bi

Bidadariku

Oleh Suci Rahmi Amjusfa Musik itu terdengar padaku. Tak jauh dari taman ini, sebuah ruangan yang jendelanya terbuka. Gadis itu kulihat diam di sana; matanya terpejam, jemarinya asik menekan dan memainkan piano. Entah apa yang dipikirkannya?...
si

Kini, Hanya Ada Seorang Sipud

(Oleh Riska Firmanila) Langit seolah murung. Udara sedikit tak bersahabat. Suasana hatipun ikut mengasah petang yang tak menampakkan diri sebagaimana mestinya. Diri ini kembali merenung, kilas balik kehidupanku menoreh luka tersendiri yang hingga...
gd m

Tak Ada Lagi Kisah Cinta di Episode ini

(Oleh Nur Rahmi) Masalah mengajarkan aku banyak hal. Kedewasaan, pantang menyerah, semangat dan ketidakputusasaan. Tapi aku hanyalah seorang manusia yang pasti dihiasi oleh kekurangan. Entah apa rencana Tuhan untukku. Kehidupan dan perkembangan...
cinta di jambo

Zara Lari Melalui Pematang

Bulir-bulir padi mulai menguning dan padat berisi merebah diri saling sandar di petakan-petakan sawah yang bertingkat-tingkat bak anak tangga, rebah akibat diterjang hujan lebat semalaman. Hembusan angin menyerang panas mentari supaya hasilkan...

Arafah

Di Arafah, tanpa sengaja kami dijumpakan Tuhan. Ia begitu anggun dalam mukena putih kosong yang dikenakan saat azan asar menggema. Ayahku rupanya kawan lama ayahnya kala dulu sama-sama nyantren di Aceh. Mereka bertemu di sana. Aku dibawa berhaji...

Tidak Mahal Engkau Bungsu

BUNGSU duduk bersama perempuan-perepuan putik lainnya. Berjejer di panggung desa beralaskan papan jati dan beratapkan daun nyiur muda. Bungsu baru saja dibalut kain beludru yang bertaburkan manik-manik manis, begitu pula teman manggungnya....