Senin, 21 Mei 2012 | 2:47

Archive: Cerbung Subscribe to Cerbung

djong

Djong (7)

LADANG Ada ladang lada membentang hingga pandangan terbentur kaki bukit terjal. Bukit batu kapur. Konon, kata Ash di sana ada sebatang bunga cempaka jingga. Bunga itu jika diramu dengan daun talas sungai Nahal akan menjadi penawar racun paling...
dialog

Djong (6)

”Tahun ular, kata mereka. Di tahun ini akan sangat banyak penindasan, akan sangat banyak kesengsaraan. Kita perlu berhati-hati. Bahkan pada orang-orang kita sendiri,” tambah lelaki itu. Aku terkejut dan melongo ke atasnya, ”siapa saja...
tualang

Djong (5)

4 RIMBA Aku melihat hutan perawan. Masih legam sekali. Batu-batu berlumut dan batang-batang kayu besar yang dijalari perdu jalar. Dingin menyusup hingga belulang, padahal matahari menyusupkan sulur-sulurnya lewat celah daun pepohonan. Sebuah...
baca

Djong (4)

Baris-baris cerita kubaca pelan dan masyuk. Aku tergoda. Kukira ia punya pengalaman yang dalam di rimba-rimba yang dilaluinya. Oh, adakah penulisnya ayahku? Bukankah ayah lama mengelana di rimba-rimba? Berat hatiku berkata iya. Tapi nama ayahku...
bca

Djong (3)

Dari arah rumahku terdengar suara ibu,”Agaaam.. ada telpon untukmuuu.” Lalu aku bergegas menuju suara itu. *** Di pintu ibu berdiri sunyi. ”Dari siapa, bu?” tanyaku ketika sudah berhadapan dengannya. ”Suhaibah. Katanya kau ada janji...
buku

Djong (2)

Di kampung itu, sejak ayah meninggal, dan makcik Ati, adik ayah menikah dengan seorang pegawai kantor kecamatan lalu dibawa pergi ke kampung lelaki itu, rumah nenek kami kosong tak berpenghuni. Maka ibu memutuskan untuk pulang ke sana, terlebih...
di rumah

Djong (1)

1 GUDANG Begitu dingin. Angin menyusup lewat celah ventilasi kamarku. Ya, seperti hari-hari yang lalu. Seminggu ini hujan hampir tak pernah reda menjenguk muka tanah kampung kami. Selaik biasanya dalam seminggu ini, sepulang sekolah aku lebih...
pe

Empat Langkah (3)

“Tak boleh masuk lagi. Kamu mau kuliah atau main-main?” Pak Budi berpindah, dekati Darul. Kumisnya melengkung seperti tanduk kerbau, kini naik. “Tapi, Pak. Baru lima menit..” “Tetap. Bapak menginginkan kalian semua disiplin.” “Pak,...

Empat Langkah (2)

Angin jelang siang berhembus, menyelinap lewat celah-celah bangunan kota Banda Aceh. Kota itu, hari ini hujan debu. Serpihan-serpihan debu dari pengadaan got di sepanjang tepi jalan, berenang di udara. Namun, abu yang melintas di mukanya, Darul...

Empat Langkah (1)

Agak sejuk. Darul melihat ke luar jendela dari kantornya. Ia menatap ke kantor gubernur. Hanya dua kali lemparan batu. Wajahnya putih layu. Dug. Dug. Dug. Pagi ini tugas pertama Darul menyodokkan tape recorder ke muka narasumber. “Gubernur...