Senin, 21 Mei 2012 | 2:32

Mengunjungi Makam Penipu Belanda

Teuku Umar

Langit Sabtu yang amat mendung. Saya bersama seorang rekan tengah mendaki salah satu bukit di desa Mugoe Rayek kecamatan Panton Reue, Aceh Barat. Gle Rayek Tameh nama bukit ini. Jaraknya sekitar 45 kilo meter dari kota Meulaboh.

Hek that (Capek sekali),” keluh Septy, rekan saya.

Dia rehat sebentar di tempat duduk: terletak di antara tangga yang satu dengan tangga berikutnya. Di depannya, semak-belukar meyemaki pandangannya. Lepas itu kami melanjutkan pendakian meski sesekali harus meyibak lautan semak-semak.

Usai menaiki 225 tangga, kami pun tiba di puncak Gle Rayek Tameh. Senandung hawa sejuk bersambut, pun pandangan pertama saya menangkap sesosok lelaki yang duduk sendirian. Kemudian saya menghampirinya.

“Ada tujuan apa Bang datang ke makam ini?” Aju saya setelah saling sapa salam sebelumnya.

“Iya, kami sekeluarga datang kemari untuk melepaskan nazar anak kami. Juga untuk mengenang jasa pahlawan,” sahut Nazar, lelaki asal Jeuram itu.

BEBERAPA langkah di sisi Nazar, Nita, pengunjung asal Samatiga sedang berdiri di dekat makam.

“Saya datang kemari untuk melepaskan nazar keponakan saya. Saya ingin memandikannya di sini,” kata Nita seraya tersenyum.

TIBA-tiba telunjuk Septy melayang ke tembok dekat pohon besar.  Tak  jauh dari tempat kami berdiri, sekira 5 meter. Dulu, kata orang-orang, pohon itu menampung air yang mujarab. Sekejap saja, Septy sudah di sisi tembok itu.

“Saya ingin menulis sejarah singkat Teuku Umar,” ujar Septy sambil memperhatikan tulisan di tembok.

Sejarah Singkat Perjuangan Teuku Umar dari tahun 1878-1899, begitu kalimat pembukanya.

Fase 1878-1893 (Melawan Belanda)

Teuku Umar lahir di Meulaboh, Aceh Barat pada tahun 1854 dari pasangan Teuku Cut Mahmud dengan Cut Muhani. Awal tahun 1878 ia mulai berjuang melawan Belanda demi mempertahankan kampung halamannya sampai ke wilayah Kuta Raja (Banda Aceh sekarang) dan Aceh Besar. Akhir tahun 1878, Teuku Umar menikah dengan Cut Nyak Dhien. Lalu pasangan suami-istri ini bergabung dengan pejuang-pejuang Aceh lainnya. Dan terus berjuang melawan tentara Belanda hingga 1893.

Fase 1893-1896 (Memihak Belanda)

Pada 1893, Teuku Umar dan pasukannya memihak kepada pasukan Belanda sebagai taktik untuk memeroleh senjata modern. Saai itu, pahlawan yang gemar mengenakan kopiah meukutop ini diangkat sebagai panglima perang dengan gelar “Teuku Oemar Djohan Pahlawan”. Dan Teuku Umar beserta pasukannya diserahi tugas sekaligus diberitakan senjata. Selain itu, juga diberikan biaya perang untuk mengamankan pejuang-pejuang Aceh yang hendak melawan Belanda. Taktik ini dijalankan Teuku Umar dengan baik demi mengumpulkan senjata dan dana supaya dapat melawan kembali tentara Belanda.

Fase 1896-1899 (Kembali Melawan Belanda)

Pada 1896, dengan taktik dan kecerdasannya, Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien serta Panglima Laot pula pejuang Aceh lainnya bergabung kembali. Bersatu-padu seperti semula. Akibatnya Belanda marah besar atas tipu daya Teuku Umar. Panglima Laot, suatu struktur adat Aceh yang berfungsi mempertahankan keamanan di laut, mengatur pengelolaan sumber daya alam di laut dan mengatur pengelolaan lingkungan laut.

Dan pada 11 Februari 1899, pasukan Teuku Umar sudah bersiap-siap di Lhok Bubon untuk menyerang tentara Belanda yang bermarkas di Meulaboh. Namun rencana ini gagal karena dibocorkan mata-mata (pengkhianat). Sebab tahu ada yang memata-matai, hari itu juga pasukan Teuku Umar bergerak ke pantai Lhok Bubon menuju Meulaboh.

Sementara itu, tentara Belanda yang dipimpin jenderal Ven Heut SZ telah menunggu di Suak Ujong Kalak. Tak pelak, kontak tembak pun terjadi. Di tengah-tengah berlangsungnya perang, Teuku Umar terlihat memegang dada kiri yang berlumuran darah. Saat itulah Teuku Umar menghembus nafas terakhirnya. Kemudian jenazahnya dilarikan pengikut setianya ke Pucok Lueng Suak Raya, terus ke Rantoe Panyang, ke Reudeup sampai ke Pasi Meugat dan dikebumikan di samping makam ibunya. Enam bulan kemudian dipindahkan ke Gunong Gle Rayek Tameh di Mugoe Rayek.

Septy melipatkan kertas di mana ia menuliskan sejarah singkat Teuku Umar dan menyimpannya di saku celana. Lalu kami menjumpai Teungku Khaddam yang sedang duduk di bale (gerai) dan terletak sekitar 30 meter dari makam. Teungku Khaddam, sebutan bagi lelaki penjaga makam. Biasanya teridri dari para alim ulama.

“Assalamualaikum Teugku.”

“Waalaikum salam.. .” Balas Teungku Khaddam. Asap rokok dari mulutnya mengepul ke udara, bak awan kecil.

Piyoh neuk. Peu na hai yang jeut tabantu (Mampir Nak. Ada yang bisa dibantu)?” Kata Usman, Teungku Khaddam itu.

Lalu Teungku asal Mugoe Cut itu mau menjelaskan perihal Teuku Umar seraya mengisap rokok.

“Mak Teuku Umar nyan ureung (itu orang) Meulaboh. Seudangkan ayah gobnyan ureung (ayahnya orang) Peukan Bada, Aceh Besar,” kata Usman.

“Teuku Umar lahir tahun 1854 dan syahid di pantai Suak Ujong Kalak Johan Pahlawan pada tahun 1899,” tambahnya.

“Tanggal berapa?” Tanya saya.

“O, itu yang tidak kami tahu,” balasnya.

“Teuku Umar berapa kali dikubur?” Tanya saya lagi.

“Iya, Nak. Kuburan pertama di Pucok Lueng Suak Raya. Kemudian di Pasi Meugat Kawai XVI. Kemudian di Gunong Cot Manyang dan terakhir di Gle Rayek Tameh, yaitu makam sekarang ini,” cerita Usman.

Lelaki yang kerap disapa Teungku Usman itu menambahkan, jasad Teuku Umar  masih utuh selama 8 bulan usai dimakamkan.

“Kondisi jasad Teuku Umar mulai dari syahid sampai dipindah-pindahkan hingga ke makam terakhir masih utuh. Dan luka di bagian kiri dadanya sudah sembuh kembali,” ungkap Teungku Usman.

Sejurus kemudian Teungku Usman mengajak kami ke makam Teuku Umar untuk membasuh muka dengan air yang sudah ditampung. Dan Teungku Khaddam itu berpesan, “jadikan tempat bersejarah ini (makam Teuku Umar) sebagai contoh untuk meningkatkan martabat dan motivasi bangsa Aceh kita ini.”

Sudah jam 2 siang ternyata. Kami pamit pulang. Dan basah kuyup sampai ke rumah. 2o November 2010 itu, kami telah melihat dan mengingat kembali sejarah Teuku Umar. (Afrizal/md/acehjurnal.com)


One Response to “Mengunjungi Makam Penipu Belanda”

  1. 10 Februari 2011 at 10:34 PM #

    saya sangat antusias dengan pa yanga anda sampaikan. ytetapi saya punya kendala sendikit mengnai, apakah sebelum aceh bergabung dengan nkri ace*h sudah bisa dikatakan sebuah negara, siapa yang mgakuinya, dan atas dasar apa aceh menggabungkan diri dengan rkri? dalam sebuah buiku sejarah saay juga temukan sebuah pernyataan dari seorang orientalish bahwa ace*h pernah menjalain hubungn persahabatan dengan eropa termasuk inggris dan belanda sekitar abad ke 16, sehiungga menurutnya belanda sudah mengingkari janji yang sudah ia ikatkan dngan ace*h, menurut anda benarkah apa yang dikatakannya, dan satu lagi ace*h jaya sesudah islam datanag atau sebulum islam datang di aceh sudah ada suatu pemerintahan seprti di romawi atau di persia tau di india?

Leave a Reply